film

Naluri seorang Ibu ada bahkan di orang yang gak pengen jadi Ibu – Review Film Mimi

Film Mimi

Keinginan dan harapan yang bertemu dengan kenyataan adalah alur utama film ini, dimana ada pasangan dari Amerika Serikat tidak mampu memiliki anak yang akhirnya memutuskan menjalankan program bayi tabung, hal inilah yang membuat mereka berkeliling India untuk menjadi orang yang bersedia menjadi ibu pengganti, John (Aiden Whytock) dan Summer (Evelyn Edwards) menginginkan sosok yang sempurna untuk menjadi Ibu pengganti, akhirnya dengan perantara sopir taksi lokal Bhanu (Pankaj Tripathi) mereka bertemu dengan Mimi, seorang bintang penari di Kota Rajahstan India yang ternyata dalam waktu yang sama membutuhkan banyak uang untuk mengejar mimpinya menjadi bintang film kenamaan.

Dua keinginan yang bertemu inilah akhirnya mengantarkan ke jalan cerita film sebenarnya, bagaimana seorang gadis yang belum pernah menikah mengharapkan kehamilan dari proses bayi tabung yang disuntikan kepadanya, bagaimana proses kehamilan yang tidak bisa diketahui oleh orang tuanya dijalani sampai pada proses menjaga kehamilan tersebut agar tetap sehat mulai dari jalan pagi sampai pada makanan bergizi yang dalam proses tersebut dibantu oleh sahabatnya Shama (Sai Tamhankar).

Harapan dan keingin tersebut akhirnya menemukan hambatan ketika dalam pemeriksaan kehamilan bulan keempat bayi yang dikandung oleh Mimi didiagnosis menderita gangguan down syndrome, Summer yang ingin bayinya sempurna pun akhirnya membatalkan keinginannya untuk mendapatkan anak dari Mimi dan menyuruh Mimi menggugurkan kandungannya, proses ini adalah puncak dari keinginan dan harapan yang ternyata tidak bertemu dengan kenyataan yang diharapkan, proses inilah akhirnya menghantarkan Mimi dalam keadaan malu kepada orang tua dan masyarakat sekitar sekaligus menghancurkan impiannya menjadi bintang film terkenal dengan bantuan uang 20 Lakh dari hasil mengandung sebagai ibu pengganti.

Mimi, berdurasi 2 jam 12 menit. Standar film-film India masa kini, khususnya buatan Netflix. Dari posternya kita sudah dibuat penasaran. Kriti Shanon tercengang, dengan perut buncit. Tag line untuk film ini pun cukup membuat penasaran. ‘Mimi, Ini semua tak seperti apa yang anda pikirkan’, kurang lebih seperti itu terjemahannya. 

Filmnya sendiri mengalir lurus tanpa menoleh ke belakang atau flashback. Dari pengenalan karakter, perguliran konflik, hingga konklusi akhir berjalan mulus. Drama yang dihadirkan tak dibuat sedih hingga penonton tak harus menguras air mata. Entah ini sengaja dibuat seperti itu, atau drama yang dihadirkan gagal mengungkap sisi dramatis Mimi. Yang pasti, penempatan komedi di sela-sela adegan drama cukup sukses memancing perhatian.

Sutradara sekaligus penulis skenario Laxman Utekar berfokus pada tokoh utama dan keluarganya. Laxman berhasil membangun  karakteristik tokoh utama dan keluarganya. Tetapi Laxman gagal memotret masyarakat di sekitar keluarga Mimi. Kita tak banyak melihat bagaimana reaksi tetangga dan masyarakat terhadap tokoh wanita hamil tanpa suami. Meskipun praktek Surogasi telah jamak ditemukan di India, bukan berarti kehamilan tanpa suami adalah sesuatu yang lazim di masyarakat India, lebih-lebih di pelosok. Sebagian besar masyarakat masih menganggap tabu apabila seorang wanita hamil tanpa suami. Di film ini, seolah kehamilan Mimi hanya menjadi beban keluarga saja, bukan beban masyarakat dan lingkungan di sekitar Mimi. 

Pesan moral yang ingin disampaikan oleh Laxman tentang Surogasi dan resiko-resikonya memang bisa diterima oleh penonton. Akan tetapi proses ekskusi penyelesaian masalah hingga pesan ini tersampaikan kepada penonton, dilakukan tanpa usaha berbelit. Konflik utama yang seharusnya bisa menjadi puncak drama, diselesaikan dengan cara yang sangat mudah.

Pesan mendalam yang bagi saya menyentuh adalah bagaimana orang yang sebenarnya tidak ingin menjadi Ibu akhirnya harus menjadi Ibu, hubungan ibu dan anak memang sedekat itu, Ini mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Mimi. Kedekatan seorang ibu dan anak dalam keseharian mereka. Melalui interaksi yang lembut dan penuh kesabaran, menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepedulian. Memahami bahwa sang anak membutuhkan perlindungan, hingga sang ibu menghabiskan waktu, tenaga, pikiran serta materi untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi sang anak. Melewati momen suka dan duka, rasa kasih sayang pun terbentuk semakin dalam. Atas dasar itu, ikatan perasaan ibu dan anak tidak hanya terwujud dalam batasan kandung atau bukan kandung. Pesan penuh kesan yang layak menjadi bahan perenungan, “kau tak perlu melahirkan seorang anak untuk menjadi orang tua. Kau pun tak perlu punya anak kandung untuk jadi orang tua”.