life

Menyoal kerja diluar waktu normal

Source from Raditya Dika Youtube Channel

Dalam tiga minggu belakangan terjadi keributan soal jam kerja yang disebabkan oleh postingan Pandji Pragiwaksono di twitternya sampai trending dengan hastag 00.44, inti ceritanya Pandji menceritakan bahwa dia whatsapp salah seorang staffnya di pukul 00.44, menyatakan bahwa dia sebagai seorang pebisnis berbeda dengan dia sebagai entertainer yang suka menghibur penontonnya ditambah lagi dengan frasa saya cepat memecat orang, yang walaupun sudah dijelaskan mindsetnya sebagai klarifikasinya di youtube yang dapat ditonton disini, atau wawancara Raditya Dika di video ini dan saya juga nonton video bincang-bincangnya dengan Pangeran Siahaan di sini dan saya pribadi memandang tidak ada hal yang salah dengan apa yang dilakukan Pandji.

Kenapa tidak ada yang salah ? karena saya pernah ada di posisi sebagai staff yang di whatsapp Pandji, dan merasakan chat staff jam segitu untuk nanyain kerjaan, itu wajar dan sekali lagi itu wajar.

Lagipula berbicara tentang kenormalan kerja apa benar kita yang di Indonesia ini merasakan jam kerja normal? jangan kita coba membandingkan dulu pola kerja kita dengan yang ada di negara mapan diluar sana sekali lagi jangan, karena kondisi kita sangat jauh berbeda, lagipula dalam bekerja itu berlaku hukum tentang siapa yang berangkat lebih awal dan pulang terakhir pastilah akan mendapatkan makanan yang lebih banyak, itulah kondisi kita sebagai pekerja secara umum atau mungkin jangan membandingkan dengan PNS yang kerjanya serius atau tidak tetap dapat gaji dan gak akan dipecat kecuali melakukan pelanggaran yang luar biasa.

Semisal pekerja hiburan seperti Pandji yang kerjanya mungkin lebih padat daripada pekerjaan kita atau bagaimana Raffi Ahmad bekerja dari jam 5 pagi dan selesai di jam 3 pagi dan istirahat hanya beberapa jam, kondisi staff mereka jelas tidak bisa disamakan dengan staff seorang direktur yang pulangnya jam 9 malam secara rutin, bagaimana kondisi pekerja seperti Raffi kalau dia bekerja sampai jam 2 malam sementara staff/assistennya sudah pulang jam 4 sore karena mengikuti jam kantor, sangat tidak selevel untuk disamakan, kira-kira apakah seorang atasan ada yang betah karena dia sendiri kerja sampai subuh dan staffnya pulang tidur sejak sore akan betah mempunyai staff seperti itu, saya sih tidak yakin ada.

Selain itu mungkin kita perlu berpikir sejenak, bahwa orang bekerja pasti sudah mempunyai perjanjian kerja di awalnya, didalam itu sudah tercantum hak dan kewajiban seorang karyawan dan pemberi pekerjaan termasuk hal-hal kecil terkait di whatsapp kerjaan pada pukul 00.44 tersebut, dalam perjanjian tentu saja ada persetujuan/kesepakatan antara dua belah pihak, lantas ketika hal tersebut telah disepakati di awal apa wajar kita marah terhadap sikap seorang atasan tersebut? saya rasa sih simpel saja ketika kita disodorkan kontrak kerja maka dipelajari secara seksama dan apabila ada yang tidak sesuai dengan kondisi yang kita harapkan maka kita mempunyai hak untuk menolak kontrak tersebut dan tentu saja dengan resiko kita tidak akan direkrut oleh perusahaan tersebut.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah banyak orang tidak paham dengan kondisi kontrak kerja seseorang lantas dapat menghakimi seorang atasan seperti Pandji, padahal staff yang di chat pada jam segitu juga ternyata gak ada masalah, lha wong dia menerima sebagai pekerja maka tentu saja harus menerima konsekuensi menerima kerja tersebut. Selain itu yang jadi pertanyaan ada gak sih orang di Indonesia ini yang bekerja normal jam 8 pagi sampai jam 5 sore secara terus menerus? pasti tidak ada dan tentu saja keseringan pulang diatas jam pulang kantor dibanding tepat waktu.

Pertanyaan lain, apa enaknya pulang tepat waktu ketika bekerja? saya pribadi tidak merasakan kenikmatan apapun ketika pulang tepat waktu. Orang-orang selalu membayangkan bahwa bekerja itu harus seimbang dengan kehidupan yang lain, life balance mereka menyebutnya akan tetapi bagi beberapa orang justru keseimbangan hidupnya tercipta dari tidak jelasnya jam pulang kantor dan untuk orang yang hadir dengan mentalitas seperti itu banyak sekali menemukan jalan kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang ribet mempermasalahkan jam pulang kantor atau gaji yang tidak seberapa pada kantor tempat mereka bernaung dan mencari rezeki.

Lantas apakah sudah menemukan orang sukses yang sering pulang jam 5 sore ?